Pages

Selamat Datang di Websiter Resmi SMPN 3 Selat, Kapuas, Kalimantan Tengah

Sabtu, 19 September 2020

GURU SMPN 3 Selat Mengikuti Pelatihan Indonesia Digital School



Kapuas, (18/09) Seluruh guru dan staff SMPN 3 Selat mengikuti pelatihan Indonesia Digital School secara daring. Kegiatan ini difasilitasi oleh INDISCH. Sebuah platform pembelajaran digital produk Indonesia. Kegiatan dilaksanakan dari jam 09.00-11.00 WIB dan sesi 2 jam 13.00-15.00 WIB. Guru mengikuti kegiatan dari rumah masing-masing dan sebagian di sekolah. Materi disampaikan oleh trainer dari INDISCH Bapak Abdur dan Bapak Reza. Sesi pertama penjelasan tentang INDISCH beserta demo dan sesi 2 praktek.

INDISCH di buat awalnya karena adanya kebutuhan di masyarakat akan akses terhadap pendidikan yang mudah dan murah, bahkan gratis. Karena sebenarnya Indonesia ini memiliki sumber daya manusia yang unggul, dibandingkan negara lain. Baik dari segi jumlah maupun kualitas, hal ini dibuktikan dengan banyaknya siswa dan siswi Indonesia yang berprestasi dalam berbagai ajang olimpiade, dengan mengalahkan perwakilan dari negara-negara lain di Dunia.

Namun sayang akses terhadap pendidikan dan pembelajaran tidak merata. Sehingga perlu sebuah terobosan, dimana semua orang memiliki akses terhadap pendidikan dan pembelajaran yang mudah, murah bahkan gratis. Bahkan tidak hanya mendapat kesempatan belajar yang lebih luas, tetapi juga kesempatan mengajar yang terbuka bagi siapapun, baik pelajaran formal di sekolah, maupun pelajaran informal yang bersikat vokasi, softskills, motivasi maupun inspirasi yang dapat menggerakan Indonesia ke arah yang lebih baik di masa yang akan datang.

Mengapa INDISCH dibuat?

INDISH dibuat sebagai sebuah Platform Media Sosial, dimana setiap pembelajar dan pengajar bisa saling berinteraksi, berbagi video pembelajaran. Saat ini ada dua sumber pembelajaran bagi siswa sekolah sampai mahasiwa, bahkan masyarakan umum, yaitu:

  • Kurikulum yang dibuat oleh kementerian dan instansi terkait, yang harus diikuti untuk menyelesaikan setiap jenjang pendidikan.
  • Non kurikulum, dimana semua orang mencari materi pembelajaran di Internet, salah satunya adalah yang berbasis video sharing, youtube.

Aplikasi pembelajaran yang saat ini ada di pasaran, cenderung mengkuti tahapan-tahapan yang ada dikurikulum, sehingga semua orang diarahkan untuk mengikuti pola yang belum tentu mengikuti kebutuhan pasar. Sedangkan Non kurikulum, biasanya searching di Internet tidak ramah anak. Karena, sangat banyak sekali materi, terutama video di youtube yang bisa diakses dengan bebas. Paling tidak terdapat 3 jenis video yang membahayakan, yaitu:

  • Video terkait terorisme
  • Video obat-obatan terlarang
  • Video berhubungan dengan pornografi

Bahkan ratusan video yang berhubungan dengan pornografi bisa diakses oleh siapapun dalam waktu kurang dari 3 menit.

Menyadari kebutuhan akan pembelajaran yang lebih independen, tetapi juga lebih terjaga dari konten yang negatif, maka kami menghadirkan INDISCH sebagai solusi pembelajaran yang berbasis media sosial.

 

Harapan untuk pendidikan di indonesia?

Sebuah negara maju, bukan lagi ditentukan oleh seberapa banyak sumber daya alam yang dimiliki, tetapi sebera tangguh dan kompetitif sumber daya manusianya. Oleh karena itu, Indonesia harus bisa melihat 10 sampai 20 tahun ke depan, dengan mulai membenai sistem pendidikan yang berbasis kebutuhan industri dan dunia usaha. Disamping itu, penelitian-penelitian yang direalisasikan menjadi solusi bagi masyarakat dan bisnis sangat diperlukan, sehingga tidak hanya berakhir sebagai jurnal ilmiah yang menjadi persyaratan gelar akademis, atau kewajiban akademis mahasiswa dan dosen di kampus-kampus.

Kami menghadirkan INDISCH, sebagai salah satu solusi bersosial media yang produktif, karena bisa saling berbagi ilmu, dan juga memberikan kesempatan yang sama kepada masyarakat pembelajar di Indonesia, untuk bisa belajar dan mengajar di manapun.

 

Bagaimana posisi INDISCH di era digital sekarang?

Era digital ini ibarat dua sisi mata pisau. Kita bisa memanfaatkan seluas-luasnya untuk kepentingan dan kemajuan bangsa, termasuk generasi penerus bangsa. Tetapi di sisi lain bisa memberikan dampak yang negatif, apabila tidak disertai dengan antisipasi terhadap ekses yang timbul dari kecepatan internet dan keterbukaan informasi di era digital ini.

Kita lihat bagaimana China berani melarang youtube, facebook, whatsapp, twitter dan menggantikannya dengan produk lokal di negara sendiri, menunjukan bahwa pemerintah bisa melakukan intervensi terhadap akses informasi yang tanpa batas. Oleh karena itu, jika kita belum bisa membuat teknologi yang minimal menyamai platform untuk mengakses informasi yang bebas seperti ditawarkan oleh media sosial seperti youtube, facebook, whatsapp, twitter dan lainnya, maka minimal kita bisa membatasi aksesnya, dan memberikan ruang kepada media sosial lokal dengan konten yang lebih selektif seperti INDISCH.

 

Harapan INDISCH sebagai solusi Pembelajaran?

Software atau aplikasi sejenis secara umum dibedakan menjadi dua, yaitu:

  • Aplikasi pembelajaran satu arah, dimana kurikulum dan konten telah ditentukan provider, dimana siswa dan peserta hanya bisa mengikuti alur yang sudah ditentukan
  • Video content aggregator yang memperbolehkan upload dan sharing video dengan konten yang bebas, yang menyebagkan siswa bisa tersesat di dalamnya, apalagi begitu mudahnya mengakses materi video yang tidak sesuai dengan tujuan pendidikan

INDISCH adalah gabungan dari media sosial, bisa membuat dan mengkonsumsi konten, sekaligus sharing dengan siapapun yang terkoneksi, tetapi dengan konten video yang lebih selektif. Dengan INDISCH, maka peran guru dan dosen tidak tergantikan, karena mereka menjadi subject dalam pembelajaran, tidak digantikan oleh pemateri yang disediakan oleh Provider aplikasi pendidikan.

Hal yang paling penting dari aplikasi INDISCH adalah, 100% gratis, dimana setiap orang bisa membuat konten video pembelajaran sebagai publisher, membagikannya kepada para pembelajar atau subscriber dengan akses Private, Subscribe maupun Public. Sehingga semua orang memiliki kesempatan belajar dan mengajar yang sama. Oleh karena itu, moto kami adalah Indonesia Belajar – Indonesia Mengajar.

 

 

 




 

0 comments:

Posting Komentar